Biji Karet Cemilan yang Rasanya Menipu Lidah



Saat mendengar biji karet apa sih yang terlintas di benak teman-teman?. Kalau saya langsung teringat kampung halaman di Sumatra Utara yang banyak sekali perkebunan karet dan sawit. Kalau di kampung saya biji karet dipanggil rambung. Waktu kecil dulu biji karet menjadi mainan anak-anak di kampung. Kadang sesekali dibuat kerajinan. 

Tapi, seorang teman di sosial medianya mempromosikan biji karet goreng. Seketika saya berfikir 'apa enak biji karet dimakan?.' Lantas saya tersenyum getir. Ada-ada saja kreatifitas orang-orang sekarang ini melihat peluang untuk menghasilkan uang. 

Setiap hari postingan tentang biji karet goreng melewati beranda facebook. Saya semakin penasaran. Terlebih lagi melihat komen-komen yang sudah merasakan. Katanya rasanya seperti kacang goreng. Semakin gurih ketika dibuat berbagai rasa. Lagi-lagi saya berfikir masih belum percaya. Karena saat di kampung dulu tidak ada orang yang mengelola biji karet menjadi makanan atau cemilan. Biji-biji karet selalunya hanya dibuat benih pohon karet yang baru dan buat mainan. 

Akhirnya dari pada rasa penasaran itu ke bawa alam baka mimpi saat pulang kampung saya pun memesan 4 toples biji karet goreng. Saya pesan ke Mba Ifen temen saya. Pengiriman dari Jember ke Tebing Tinggi. Dua hari sebelum saya pulang kampung biju karet sudah dihantar. Sehari setelah saya tiba di kampung biji karet pun sampai. 

Untuk mengobati rasa penasaran tentang rasa biji karet goreng langsung saja paketan yang baru sampai saya buka. Setelah dibuka empat toples biji karet yang ada di hadapan saya pandangi. Seakan tidak percaya biji karet bisa dimakan. Setelah itu saya buka satu toples dan saya rasa isinya. Rasanya bukan seperti biji karet. Ini mah kacang bukan biji karet. Saya ngedumel dalam hati. 

Saat Abah yang baru pulang sholat ashar di mesjid langsung saya todong ikut merasakan si biji karet goreng. 

"Coba Abah rasa ini biji karet apa kacang sih," sambil tanganku nyuapkan biji karet goreng ke mulut Abah. 

Abah diam sejenak mengunyah biji karet yang berhasil aku masukkan ke mulutnya. 

"Hmmmm," Abah berfikir. 

"Rasanya seperti kacang," diambil lagi beberapa buah biji karet gorenf dan mengunyahnya. 

"Ini biji karet deh. Dulu waktu kecil-kecil Abah selalu juga buat biji karet goreng," sesaat Abah bernostalgia. 

Saat malam tiba. Saya, Abah dan Ibu menikmati siaran tv. Sebuah acara debat politik. Aku yang jarang sekali nonton tv hanya ngemil biji karet dan Abah sambil matanya melihat ke layar tv tangannya pun tidak berhenti memasukkan biji karet goreng ke mulutnya. Ketika acara debat selesai, habis juga biji karet satu toples. 

"Loh Bah kok ludes? Abah lapar apa doyan?" Tanyaku kepada Abah.

"Dua-duanya," jawab Abah sambil mesem-mesem. 

**** 
Kalau ada yang penasaran sama biji karet goreng Jember hubungi saja Mba Ifen (+6285855117744)